Sabtu, 24 Januari 2015

KASUMEDANGAN

SEJARAH SUMEDANG LARANG

KASUMEDANGAN
Kasumedangan merupakan muatan local yang kini tengah dipakai untuk terwujudnya Sumedang sebagai puseur budaya sunda dan pembentukan generasi muda berkarakter budaya lokal.
Pokok-pokok pembahasan diantaranya :

  • Asal mula nama Sumedang
Sumedang berasal dari kata “INSUN MEDAL” yang berarti Aku Lahir dan “INSUN MADANGAN” yaitu Aku Menerangi . Di ikrarkan oleh Prabu Tajimalela ketika melihat malela (selendang) menyerupai taji di angkasa.
Batas-batas Sumedang :
1.    Dari Barat yaitu sampai tangerang tepatnya di sungai Cisadane
2.    Dari Timur yaitu sampai brebes tepatnya di sungai atau kali Cipamali.
3.    Dari Utara yaitu Laut Jawa.
4.    Dari selatan yaitu Samudra Hindia.
Tonggak sejarah bagi kerajaan Sumedang Larang, sebagai kerajaan sunda terbesar, setelah kerajaan Padjadjaran runtuh akibat serangan gabungan banten dan Cirebon, maka kerajaan Sumedang Larang mencakup wilayah bekas kerajaan Padjadjaran.  Tonggak sejarah itulah menjadi dasar : Hari Jadi Sumedang.
Pada waktu itu di Kerajaan Sumedang Larang akan diadakan pengangkatan seorang raja, yang bernama Raden Wijaya, di Padjadjaran sedang ditempa kekacauan karena mendapat serangan yang mendadak dari Kerajaan Banten. Serangan tersebut bertujuan untuk menghancurkan kekuasaan agama hindu dan digantikan oleh Dinul Islam. Pada penyerangan dari Banten dipimpin oleh Syeh Maulana Yusuf.
Ketika mendapat serangan dari Banten yang mendadak itu Padjadjaran tibak bisa berbuat banyak, kecuali menerima kekalahan. Kerajaan Padjadjaran porak-poranda masyarakat banyak mengungsi sehingga rajanya pun (Prabu Siliwangi) berangkat meninggalkan kerajaan. Hanya sebelum berangkat beliau memanggil dulu empat patih kepercayaan Kerajaan (Kandaga Lante) , yang masing-masing ialah :
1.    Sanghiyang Hawu (Embah Jaya Perkasa)
2.    Bantara Dipatiwijaya (Embah Nanganan)
3.    Sanghiyang Kondang Hapa
4.    Batara Pancer Buana (Eyang Terong Peot)
Panggilan Sang Prabu Siliwangi berisikan yang berupa amanat yaitu :
   a.   Memberikan Mahkota Kerajaan Padjadjaran yang berupa :
                -Mahkota Kerajaan yang dibuat dari emas
                -Siger tampekan kilat bahu
                -Kalung bersusun dua dan bersusun tiga
         Semuanya dibuat dari emas dan sekarang masih ada di Museum Sumedang.
   b.     Memohon perlindungan untuk dirinya dan seluruh rakyatnya yang masih berada di wilayah Padjadjaran. Menurut bahasa Prabu Siliwangi ialah Geusan Ulun yang berarti Geusan Kumaula (Tempat Kumaula).
Setelah menerima amanat tersebut maka Kandaga Lante yang empat orang tadi sepakat bahwa yang pantas menjalankan amanat tersebut tiada lain adalah Raden Angkawijaya. Ini berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diantaranya :
1.  Karena Raden Angkawijaya adalah asli keturunan Prabu Siliwangi .
2.  Sangat pantas sekali (payus tur pantes) wilayah kekuasaan Padjadjaran dijadikan Kekuasaan Sumedang Larang.

1 komentar: