Selasa, 27 Januari 2015

Koleksi Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang

Pedang Ki Mastak Prabu Tadji Malela Pendiri Kerajaan Sumedanglarang
Pepeten (tempat Perhiasan) Peninggalan Pangeran Sugih
Bokor Emas
Mahkota Binokasih Sanghyang Pake merupakan Legitimasi Penerus Pajajaran kepada
Prabu Geusan Ulun selaku Nalendra Sumedanglarang
Siger Mahkota Binokasih Sanghyang Pake

Ikat Bahu Pasangan Mahkota Binokasih
Badik Curug Aul Senopati Pajajaran Jayaperkosa

Gedung Kereta
Gedung Srimanganti dibangun Tahun 1706 pada masa Pangeran Panembahan
dan Pangeran Tanoemadja
Gedung Bumi Kaler dibangun tahun 1850 pada masa Pangeran Aria Soeria Koesoemah Adinata
(Pangeran Soegih)

Gedung Gendeng dibangun tahun 1850 pada masa Pada masa Pangeran Aria Soeria Koesoemah Adinata (Pangeran Soegih)

Gedung Pusaka dibangun tahun 1993
Gedung Kereta dibangun tahun 1973
Wayang Golek Peninggalan Pangeran Soegih

Keris Ki Dukun Prabu Gajah Agung
Pedang Pangeran Soegih
Keris Naga Sastra Pangeran Kornel

Seperangkat Meubel Jepara Adipati Soeriatmadja ketika mendapat gelar "Pangeran" dari Adipati Sosroningrat (Ayahanda RA Kartini)
Baju Tolak Bala Zaman Pangeran Soegih (Adipati Koesoemah Adinata)

Pakaian Prajurit Sumedanglarang
Tempat Sirih
Kujang Pajajaran Zaman Peninggalan Prabu Geusan Ulun
Al Qur'an Tulisan Tangan
Kitab Cariosan Prabu Siliwangi

Kitab Waruga Jagat
Keramik Cina Peninggalan Abad 5 M

Kampak Jerong Peninggalan Zaman Perunggu

Gamelan Parakan Salak tahun 1883

Kereta Naga Paksi Tahun 1836
Goong Ageung Parakan Salak yang pernah ikut andil dalam Pembukaan Menara Efiel di Paris

Puade Tahun 1836
                                                                        Keretek

Sabtu, 24 Januari 2015

Pendakian Gunung Papandayan 2665 mdpl

Gunung Papandayan terletak di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, 70 KM sebelah tenggara Kota Bandung. Gunung Papandayan memiliki ketinggian 2665 meter di atas permukaan laut. Gunung papandayan merupakan tipe gunung api strato. Transport dari Bandung bisa menggunakan angkutan elf jurusan Bandung – Cikajang, dan turun tepat di pertigaan cisurupan.
Pertigaan Cisurupan – Parkiran Papandayan/Camp David
Ada mobil bak terbuka dan ojek yang bisa mengantarkan menuju parkiran papandayan. Harga sewa mobil bak terbuka 20 ribu/orang, sedangkan ojek 25 ribu/orang. Mobil bak terbuka berangkat jika penumpang sudah mencapai 10 orang. Kalau untuk harga borongan/carter mobil bak terbuka 200 ribu, jadi berapapun penumpangnya asal berani bayar 200 ribu mobil langsung berangkat. Harga sewa mobil bak terbuka dan jasa ojek segitu sepadan, mengingat kondisi jalan yang rusak berat dan menanjak. Butuh tenaga ekstra dari pengemudi dan tentu saja motornya buat nyampe parkiran. Jarak pertigaan Cisurupan-Parkiran 9 KM, cuman di awal doang jalannya bagus, dan palingan sekitar 1-2 km, sisanya rusak berat. Kalau mau pake ojek pilih-pilihlah motornya, jangan motor matic atau motor tua kalau ga mau menderita di jalan. Sekitar 30 menit dan 35 menit waktu yang dibutuhkan ojek dan mobil bak terbuka buat mencapai parkiran papandayan. Tergantung skill dan tenaga kendaraannya. Setelah tiba diparkiran jangan lupa menuju pos pendaftaran.
Parkiran – Pondok Saladah
Estimasi waktu dari Parkiran menuju Pondok Saladah sekitar 2 jam. Awal perjalanan akan disuguhi trek bebatuan dan asap putih yang keluar dari beberapa kawah belerang. Disarankan memakai masker karena bau belerang yang lumayan menyengat. Setelah trek bebatuan kapur, akan menuruni lembah lalu nanjak kembali sampai ke Pondok Saladah. Pondok Saladah tempatnya luas sehingga muat untuk menampung puluhan tenda. Di pondok Saladah juga tidak sulit air, karena ada pipa-pipa yang digunakan untuk mengalirkan air. Di sana juga ada tempat untuk buang air besar/kecil, tepatnya di pinggir sungai. Memang tempatnya tidak representatif, hanya ditutupi kain-kain karung beras, tapi lumayan daripada buang air di semak-semak.
Kawah Aktif
Kawah Aktif
Jalur Bebatuan
Jalur Bebatuan
Pondok Saladah
Pondok Saladah
Pondok Saladah – Tegal Alun
Dari Pondok Saladah Menuju Tegal Alun akan melewati Hutan Mati, bekas letusan papandayan tahun 2002. Di sana terdapat banyak pohon yang sudah mati dan tinggal menyisakan batangnya saja yang berwarna hitam. Namun pemandangan hutan mati sangat indah, memberikan sensasi yang berbeda. Setelah Hutan Mati akan melewati jalur menanjak yang disebut Tanjakan Mamang. Tanjakan bertangga dengan kemiringan sekitar 60 derajat. Selepas itu, tibalah di Tegal Alun, tempat yang luas dengan ditumbuhi bunga Edelweiss yang menghampar luas. Waktu yang dibutuhkan sekitar 40 menit.

Gn. Cikuray dari Tanjakan Mamang
Gn. Cikuray dari Tanjakan Mamang
Tegal Alun
Tegal Alun
Tegal Alun – Puncak
Kebanyakan tujuan akhir para pendaki Papandayan bukan ke Puncaknya, melainkan Tegal Alun. Mereka mengahabiskan waktu di Tegal Alun untuk foto-foto dengan latar belakang indahnya hamparan Edelweiss. Untuk mencapai puncak Papandayan ikuti petunjuk dari plang yang ada disana. Ada dua plang yang yang menunjukan arah ke Puncak Papandayan, yaitu plang yang dekat dan yang jauh. Jika mengikuti arah dari plang yang dekat, akan melewati turunan dan melewati sungai kecil. Namun selepas itu akan melewati tanjakan yang curam, walaupun tidak terlalu panjang. Sedangkan plang yang jauh, akan melewati turunan dan mencapai mata air. Ambil jalur di sebelah kiri mata air tersebut untuk mencapai puncak. Untuk pemula sebaiknya mengambil jalur yang melewati mata air, walau jauh tapi jalurnya enteng. Selama perjalanan ke Puncak kita akan disuguhi rimbunnya pepohohan hutan, namun ada beberapa spot yang cocok untuk beristirahat atau foto-foto, karena pemandangannya indah. Dari spot tersebut bisa terlihat hamparan edelweiss Tegal Alun, gunung-gunung, ataupun kawah aktif yang masih menyemburkan asap. Sampai di Puncak, tidak bisa terlihat pemandangan apa-apa, karena tertutup rimbunnya pepohonan. Tempatnya pun tidak terlalu luas, paling hanya bisa menampung tidak lebih dari lima tenda. Waktu yang dibutuhkan dari Tegal Alun untuk mencapai Puncak sekitar satu jam.
Plang Petunjuk
Plang Petunjuk

Plang Petunjuk dekat Mata Air
Plang Petunjuk dekat Mata Air

Pemandangan Kawah
Pemandangan Kawah

Keindahan Gunung Tampomas

Gunung Tampomas
Ketinggian 1.684 m (5.525 ft)


Lokasi Jawa Barat, Indonesia
Koordinat 6,77°LS 107,95°BT
Geologi
Jenis Stratovolcano

Tampomas adalah sebuah gunung berapi yang terletak di Jawa Barat, tepatnya sebelah utara kota Sumedang (6,77°LS 107,95°BT). Stratovolcano dengan ketinggian 1684 meter ini juga memiliki sumber air panas yang keluar di daerah sekitar kaki gunung. Gunung Tampomas termasuk dalam area Taman Wisata Alam Gunung Tampomas

Letak Geografis

Gunung Tampomas berada di utara wilayah Kabupaten Sumedang. Secara administratif, kawasan Tampomas berada di tiga kecamatan, yaitu Buahdua, Conggeang, Paseh, Cimalaka dan Tanjungkerta. Luas area Taman Wisata Alam Gunung Tampomas adalah 1.250 hektar.

Kawasan Hutan Gunung Tampomas termasuk dalam tipe hutan hujan pegunungan dengan keanekaragaman flora dan fauna. Tumbuhan yang mendominasi kawan ini adalah jamuju, rasamala dan saninten. Sedang jenis hewan yang liar dan banyak ditemui adalah kancil, lutung, babi hutan dan beberapa jenis burung.

Puncak Tampomas
Hutan Pinus di Gunung Tampomas

Puncak Gunung Tampomas (penduduk setempat menyebutnya Sangiang Taraje) adalah sebuah lahan luas setinggi 1684 mdpl seluas 1 hektar yang berada di ujung paling atas Gunung Tampomas. Lokasi ini memiliki estetika tinggi karena dari tempat ini wisatawan dapat menikmati pemandangan indah ke arah Kota Sumedang dan sekitarnya. Adanya lubang-lubang kawah dan batu-batu besar berwarna hitam manambah kekayaan imajinasi bagi yang melihatnya.

Sekitar 200 meter ke arah utara dari puncak Sangiang Taraje, terdapat makam keramat yang dikenal dengan nama Pasarean. Menurut kisah, tempat tersebut adalah petilasan dari Prabu Siliwangi dan Dalam Samaji pada masa kerajaan Pajajaran Lama.

Untuk mencapai kawasan puncak Tampomas, ada beberapa jalur (pos) pendakian. Diantara jalur yang sering digunakan oleh pendaki adalah jalur Narimbang, Cibeureum dan Buahdua. Di pos pendakian Narimbang terdapat mata air dan curug Ciputrawangi yang terkenal.

LEGENDA GUNUNG TAMPOMAS SUMEDANG

Gunung Tampomas adalah salah satu gunung di Jawa Barat yang terletak di Kabupaten Sumedang. Taman Wisata Alam Gunung Tampomas masuk Kecamatan Buahdua, Congeang, Sidang kerta dan Cibereum Kabupaten Sumedang. Keadaan Taman Wisata ini bergunung-gunung dengan ketinggian antara 625-1.685 meter di atas permukaan laut dan seluas 1 Ha. Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson, iklim di gunung Tampomas temasuk iklim tipe B dengan curah hujan rata-rata 3.158 mm per tahun. Puncak Gunung Tampomas disebut Sangiang Taraje. Lokasi ini sangatlah keren karena dari puncak kita bisa melihat pemandangan alam yang indah ke arah Sumedang dan sekitarnya. Ada juga lubang-lubang bekas kawah dan batu-batu besar berwarna hitam yang menambah keindahan lokasi ini bagi yang bisa melihatnya. Badan gunung ini dikellingi oleh 5 kecamatan (Cimalaka, Paseh, Conggeang, Buahdua dan Tanjungkerta). Masing-masing kecamatan memiliki air terjun dan beberapa mata air. Keistimewaan dari wilayah Sumedang ini adalah mempunyai sebuah gunung yang nunggal jadi tidak heran kalau Gunung Tampomas itu sangat dikeramatkan. Asal nama Sumedang adalah Su -Medang-Larang. Su berarti bagus, sae, elok. Medang berarti wilayah yang bersinar, tempat yang bercahaya, terang, caang, madangan. Larang berarti mahal, tiada bandingannya.

Gunung tersebut merupakan gunung yang paling tinggi di bumi Sumedang, menyimpan mitos yang belum terungkap. Kisah yang telah diwariskan secara turun temurun menuturkan Gunung tersebut ratusan tahun dipandang sebagai tempat kekuatan gaib. Orang pertama yang menginjakan kaki di gunung tersebut adalah Prabu Sokawayana (putra Prabu Guru Haji Adji Putih) yang kedua, atau adik kandung Prabu Tadjimalela. Beliau mengadakan perjalanan keliling ke daratan tinggi tersebut atas perintah ayahnya agar memperluas wilayah pemukiman di sekitar kaki gunung tersebut. Kemudian mendirikan Medang Kahiyangan artinya tempat ngahiyang atau tilem. Dalam perkembangannya tempat tersebut disucikan menjadi tempat keramat yang memiliki kekuatan gaib. Bagi seseorang yang menyempurnakan ilmu disitu akan mampu ngahiyang atau hilang tanpa bekas.

Memasuki abad ke-XVIII, gunung tersebut akan meletus bahkan penduduk di sekitarnya diguncang gempa. Pangeran Sumedang datang ke gunung tersebut untuk melakukan deteksi kebatinan, dengan menancapkan keris pusaka Kujang Emas ditengah-tengah puncaknya. Kemudian setelah itu dari perut gunung mengeluarkan aip panas yang mengalir ke kawasan Conggeang dan sekitarnya.Sejak itu pula gunung tersebut dikenal dengan Gunung Tampomas, diambil dari perkataan “tanpa kujang emas) akan meletus.

Semula gunung Tampomas bernama gunung Gede dan sebelumnya bernama gunung Geulis. Namun orang Indramayu yang mengkeramatkan gunung tersebut menyebutnya dengan Gunung Tampomas. Tampomas berasal dari kata Tampo Emas yang berarti yang menerima emas (berupa senjata pustaka yang terbuat dari logam mas yang disebut dengan Pendok Mas yang disimpan di Puncak gunung dengan cara supranatural agar gunung itu tidak meletus maka alhasih Conggeang sebagai buangan gas dan air panas dari dalam perut gunung). Menurut sejarah gunung Tampomas dulunya sering meletus dan berakibat masyarakat sekitar gunung menderita.

Gunung Tampomas dihuni oleh pelbagai jenis fauna seperti trenggiling, owa yang mukanya berwarna hitam, lutung dan monyet biasa. Ada juga Harimau Lodaya, Harimau Kumbang, Harimau Tutul, Meong Congkok, Landak, berbagai jenis ular dan kaljengking.Adapun flora yang ikut menghuni gunung ini seperti Jamuju, Rasamala, dan Saninten.

Dongeng Tampomas.

Dengan melihat Gunung Tampomas yang menjadi salah satu saksi bisu perjalanan sejarah Sumedang pada khususnya dan tanah Sunda pada umumnya, kabarnya bagi sebagian orang akan terasa suasana mistis yang cukup kuat, oleh karenanya Gunung ini banyak dijadikan tempat bertapa, semedi, atau ngelmu, karena kabarnya dulu Prabu Siliwangi juga pernah bertapa di gunung ini.

Dilihat dari tempat-tempat tertentu pun suasana mistik bisa terasa, seperti halnya tidak tahu kenapa ketika mengambil foto atau gambar ini dari kawasan hutan di Wargaluyu ini saya merasakan hawa mistik yang lumayan kuat , ah terlepas dari itu semua saya jadi ingat sebuah cerita rakyat tentang Gunung Tampomas dengan judul Sasakala Gunung Tampomas, yang menceritakan asal muasal nama Gunung Tampomas. Sasakala sendiri artinya adalah mitos atau dongeng, ..berkaitan dengan Sasakala Gunung Tampomas sendiri kurang lebih begini ceritanya :

Sasakala Gunung Tampomas

Diceritakan, Gunung Gede yang ada di Sumedang mengeluarkan suara yang menyeramkan.

Suaranya bergemuruh, dari puncaknya keluar asap bercampur debu yang menyala-nyala, dan sepertinya gunung ini akan meletus. Rakyat Sumedang ketika itu sangat-sangat kaget dan ketakutan melihatnya dan berfikir bagaimana jadinya jika Gunung Gede itu benar-benar meletus ?

Tidak diketahui siapa Bupati yang menjabat waktu itu, tapi yang pasti bupati tersebut sangat sayang dan welas asih kepada rakyatnya serta bijaksana. Walau belum ada rakyat yang melapor, sebenarnya beliau telah mengetahui bagaimana kedaan rakyatnya yang diliputi kegelisahan saat itu, dan beliau tidak berhenti memutar otak dan berpikir keras agar bisa menyelamatkan rakyatnya.

Didorong oleh rasa sayang kepada rakyatnya itu, beliau lalu menyepi di satu kamar, bersemedi memohon petunjuk dari paradewa, siapa tahu dengan begitu beliau bisa menghadap ke Yang Tunggal, diberi petunjuk untuk menyelamatkan rakyatnya.

Dengan kesungguhannya berdoa, Alhamdulillah, maksud Kanjeng Bupati kesampaian. Pada suatu malam, Kanjeng Bupati bermimpi didatangi seorang kakek, kakek-kakek tersebut memakai pakaian serba putih dan berbicara dengan sangat jelas "Cucuku yang tampan dan gagah, Eyang sudah tahu bagaimana kebingungan serta kegelisahanmu, Eyang ingin membantu agar rakyat cucuku bisa lepas dari ketakutan dan kekhawatirannya. Gunung Gede harus ditumbal oleh keris pusaka kepunyaan Cucuku yang terbuat dari emas. Dan Eyang titip, cucu jangan merasa sayang dan menyesal (telah menumbalkan keris emas), nah begitu saja dari Eyang".

Setelah berkata demikian, kakek tersebut langsung menghilang dari mimpi Kanjeng Bupati...setelah diterimanya ilapat atau wejangan tersebut, Kanjeng Bupati bergegas keluar dari kamar dan membawa keris pusaka miliknya.

Beliau langsung berangkat menuju ke puncak Gunung Gede, beliau sigap dan terlihat terburu-buru karena takut Gunung Gede keburu meletus...walaupun rakyatnya saat itu sedang dilanda kebingungan, tapi ketika menyaksikan Bupatinya berangkat ke puncak gunung mereka tidak berdiam diri, mereka tidak tega Bupati pergi seorang diri...dan akhirnya mereka pun meyertai kepergian Bupati ke puncak Gunung Gede.

Setibanya di puncak Gunung Gede, Kanjeng Bupati tidak berlama-lama...keris emas yang digenggamnya langsung dilemparkannya ke kawah Gunung Gede, rakyat yang dari tadi mengikutinya hanya bisa melongo dan tidak percaya, karena mereka tahu keris tersebut adalah keris kesayangan Kanjeng Bupati. Ketika keris tersebut sudah berada dalam kawah Gunung Gede, seketika itu juga suara yang tadinya menggelegar angker menakutkan langsung hilang seketika. Bumi yang bergetar seolah gempapun langsung hilang tak terasa lagi getarannya. Seketika rakyat langsung bersorak bersuka cita dan langsung sujud kepada Kanjeng Bupati sebagai tanda terima kasih dan semua berikrar akan setia kepadanya, ikrar tersebut diterima oleh Bupati dengan haru dan sikap rendah hati...hatinya gembira karena bisa menghindarkan rakyatnya dari bencana.

Semenjak saat itu, Gunung Gede tersebut disebut dengan nama Gunung Tampa Emas (menerima emas) oleh penduduk sekitar, dan seterusnya pengucapannya berubah jadi "Gunung Tampomas".

Begitulah dongengnya sob tentang asal muasal nama Gunung Tampomas, mungkin sobat-sobat juga pernah ada yang membaca tentang Sasakala Gunung Tampomas ini tapi berlainan versi ?? memang cerita tentang Sasakala Gunung Tampomas yang berkembang di masayarakat Sumedang kabarnya ada beberapa versi, ada juga kisah yang titik ceritanya di daerah Cipanas Buahdua, dan dengan nama Bupati yang diketahui...tapi alur ceritanya kurang lebih sama dengan diatas, menceritakan tentang Gunung Gede yang akan meletus, dan kebetulan cerita di atas lah yang saya sedikit hapal dan saya coba ceritakan kembali pada sobat-sobat semuanya...semoga bermanfaat ya...

Peninggalan Sejarah di Puncak Gunung Tampomas

Gunung Tampomas dengan kekuatan fenomena alamnya memang begitu indah,unik, penuh misteri dan mampu menggoda jiwa petualang bagi para petualang alam bebas untuk mendakinya. Apalagi Gunung Tampomas di lain sisi selalu di kaitkan dengan hal-hal atau macam-macam yang sedikit agak berbau Magis. Benarkah ?
Gunung Tampomas yang berdiri gagah dan indah yang terlihat di sekitaran kota Sumedang ini memang tidak setenar gunung-gunung lainnya di Indonesia khususnya di pulau Jawa, tetapi Gunung Tampomas mampu menghadirkan pesona alam yang indah dan memberikan kepuassan bagi para pendaki yang berpetualang di alam bebasnya, dan Gunung Tampomas juga melahirkan sejumlah cerita-cerita yang sarat akan sejarah.
Diantaranya ada peninggalan Tapak (bekas) kakinya Prabu Siliwangi Raja Pajajaran yang terkenal akan kegagahan dan kesaktian-nya, dan juga makam Ranggahadi dan Istrinya yang menurut cerita mereka itu merupakan kerabat dari Prabu Siliwangi. Dan di kawasan Gunung Tampomas di temukan juga Situs peninggalan sejarah masa lalu, diantaranya seperti Batu bergambar, Pecahan Arca, Pagar Batu, Piramida Kecil, dan Patung Ganesha.
Itu semua di temukan oleh team peneliti dari Yayasan Padaringan. Situs Purbakala tersebut di temukan di timur lereng Gunung Tampomas di sekitaran Ciputrawangi, Leuweung Candi, Puncak Narimbang, Batu Lawang, Sawah Kalapa, Puncak Manik dan Blok Cibenteng. Batu Kasur yang konon merupakan tempat tidurnya Prabu Siliwangi dan Batu Padaringan yang konon di pakai tempat persembahan atau tempat musyawarah, ini membuktikan bahwa kawasan Gunung Tampomas kaya akan keindahan alam, cagar budaya serta sejarah dari keraja'an Pajajaran di masa ke-emassan-nya pada masa lalu di tataran sunda.
Batu Kasur / Pasare'an (tempat tidur)
yang konon tempat atau sempat di pakai
tempat istirahatnya / tidurnya Sang Raja
yang gagah perkasa yakni Prabu Siliwangi.
Satu di antara tempat sejarah yang mungkin
membuktikan cerita tentang masa lalu.

Pendakian Gunung Ciremai via Apuy

salam lestari

Gunung ciremai merupakan gunung tertinggi dijawa barat, yang mempunyai ketinggian 3078 mdpl. Sampai saat ini gunung ciremai masih aktif dan terus mengeluarkan asap belerang pada kawahnya.   Gunung ciremai memiliki banyak jalur pendakian via linggarjati, palutungan dan apuy.

Kali ini saya bersama teman saya ramdan mendaki gunung ciremai lewat jalur apuy, desa arga mukti, kec. argapura majalengka. Jalur apuy saya pilih karena jalur ini lah yang paling enak dan cepat dibanding jalur jalur yang lain.

perjalanan saya mulai dari sumedang-majalengka. dari majalengka ambil arah kiri pada bunderan mangga, lurus terus sampai terminal maja. sekitar kurang lebih 500 meter belok kiri ada jalan dimana ada petunjuk menuju wisata airterjun muara jaya jalan lurus terus sampai pada desa terakhir yakni argamukti. Desa ini memiliki keinggian 1204 mdpl. Pos pendakian berada dekat dengan balai desa, yang mana dikelola oleh dinas kehutanan.


pos pendakian

disini kita melakukan pendataan dan administrasi. untuk setiap orang dikenakan harga masuk 20 ribu rupuah. saya berangkat dari pos jam 23.00 malam, perjalanan pun saya mulai untuk menuju ke gerbang pendakian. perjalanan dapat ditempuh dalam waktu 45-60 menit. Disini terdapat pintu gerbang masuk, saung dan mushola yang bisa digunakan untuk camp. pada musim kemarau disinilah sumber air terakhir.

 gerbang masuk pendaki
 Saya memutuskan untuk tidur di sini, dan kami melanjutkan perjalanan jam 5.00 untuk menuju ke pos 1 (blok arban). jalan dari gerbang ambil ke arah kiri, dari sini  ke pos 1 (arban) sekitar 30-45 menit, jalan masih datar melewati semak-semak. para pendaki juga bisa menyewa pickup sampai ke pos 1. harga per orang sekitar 50 rb, sesuai nego. pos ini memiliki ketinggian 1614 mdpl. pada koordinat 06° 54’ 50.3” LS dan 108° 22’ 43.4” BT.

 pos 1 (blok arban) ke pos 2 (simpang lima)
dari blok arban ke pos 2 jalan sudah mulai nanjak. perjalanan dapat ditempuh sekitar 40-60 menit. pos ini berada pada ketinggian 1915 mdpl pada koordinat 06° 54’ 47.1” LS dan 108° 23’ 10.0” BT . Dipos ini dapat didirkikan tenda sekitar 3 tenda. Dipos ini ada terpal yang ditinggal kan pemiliknya, yang mana kondisinya masih bagus. 

pos 2 (simpang lima) ke pos 3 (tegal wasawa)
pos 3 ini berada pada ketinggian 2400 mdpl dan koordinat 06° 54’ 44.1” LS dan 108° 23’ 36.1” BT. perjalanan dapat ditempuh sekitar 45-60 menit. Pos ini dapat didirikan tenda sekitar 2 tenda dikarenakan tempatnya sempit.

pos 3 (tegal wasawa) ke pos 4 (tegal jamuju)
pos 4 (tegal jamuju) ini berada pada ketinggian 2600 mdpl dan berada pada koordinat 06° 54’ 33.4” LS dan 108° 23’ 46.9” BT. perjalanan dapat ditempuh sekitar 50-70 menit. tempatnya lebih luas dibanding pos 3 sehingga dapat didirikan tenda sekitar 4-5 tenda. 

pos 4 (tegal jamuju) ke pos 5 (sanghiang rangkah)
pos 5 (sanghiang rangkah) merupakan pos terluas dibanding pos pos yang lain, disini dapat didirikan tenda sekitar 10 tenda. pos ini berada pada ketinggian 2800 mdpl dan koordinat 06° 54’ 17.9” LS dan 108° 23’ 58.7” BT. dari pos 4 perjalanan sekitar 80-100 mnenit. 
pos 5

pos 5  (sanghiang rangkah) ke pos 6 (goa walet)
sebelum ke pos 6, pendaki akan menemui pertigaan dari jalur palutungan dan apuy. diatas pertigaan anda akan menemui 1 inmemoriam yang ada ditengah jalan.
pertigaan jalur palutungan apuy

pos 6 (goa walet) disini biasnya pada musim penghujan terdapat mata air dari rambesan goa, tetapi pada saat musim kemarau tidak ada sama sekali, sehingga pendaki mengambil air di gerbang pintu masuk. pos 6 ini berada pada ketinggian 2950 mdpl dan koordinat  06° 53’ 53.1” LS dan 108° 24’ 11.6” BT. Pos ini dapat didirikan sekitar 3- tenda. perjalanan dari pos 5 ke pos 6 sekitar 45-60 menit.
pos 6 (goa wallet)

pos 6 (goa wallet)- puncak
dari pos 6 kepuncak dapat ditempuh sekitar 30-45 menit melewati tanjakan curam. puncak gunung ciremai berupa sebuah tebing mengitari kawah yang mana angin biasanya berhembus kencang. dari puncak ciremay anda bisa mengitari puncak sekitar 2-3 jam. Dari puncak, gunung slamet dapat terlihat bila cuaca sedang bersahabat. selama perjalanan dari pos 6 ke pos 6 anda disambut edelweis yang begitu cantik. saat dipuncak banyak terdapat in memoriam para pendaki. 

kawah ciremai

Puisi Tentang Alam

INDAHNYA ALAM NEGERI INI
Puisi Ronny Maharianto

Kicauan burung terdengar merdu
Menandakan adanya hari baru
Indahnya alam ini membuatku terpaku
Seperti dunia hanya untuk diriku

Kupejamkan mataku sejenak
Kurentangkan tanganku sejenak
Sejuk , tenang , senang kurasakan
Membuatku seperti melayang kegirangan       

Wahai pencipta alam
Kekagumanku sulit untuk kupendam
Dari siang hingga malam
Pesonanya tak pernah padam

Desiran angin yang berirama di pegunungan
Tumbuhan yang menari-nari di pegunungan
Begitu indah rasanya
Bak indahnya taman di surga

Keindahan alam terasa sempurna
Membuat semua orang terpana
Membuat semua orang terkesima
Tetapi, kita harus menjaganya
Agar keindahannya takkan pernah sirna

 ANGIN LAUT
by Kuntowijoyo

Perahu yang membawamu
telah kembali
entah ke mana
angin laut mendorongnya ke ujung dunia
Engkau tidak mengerti juga
Duduklah
Ombak yang selalu
pulang dan pergi.
Seperti engkau
mereka berdiri di pantai
menantikan
barangkali
seseorang akan datang dan menebak teka-teki itu.

 HUTAN SETELAH HUJAN
Karya : Cahya AW

Awan kelabu telah pergi
Suara guntur yang menggelegar telah berhenti
Rintik air dari langit tak lagi turun

Tanah yang kering telah menjadi becek
Tumbuhan yang layu telah subur kembali

Sungai yang kering terisi kembali
Binatang – binatang yang kebasahan mulai mengeringkan tubuhnya
Pohon – pohon mulai menyerap air yang jatuh dari langit dengan ujung akarnya

Itulah keadanmu setelah hujan
Semoga tetap begitu selamanya
Demi keselamatan umat manusia

 ALAM
Puisi Vino Tritambayong

Ku buka mata ..
cahaya pagi menembus kaca jendela...
Semerbak mawar merah dan putih merekah...
Ku buka jendela...
Ku hirup udara segar...

Melihat kabut tebal masih menyelimuti bumi...
Setetes embun membasahi daun...
Kicauan indah terdengar di telinga...
Angin berhembus halus menembus kulit

Ku lihat awan seputih melati...
Juga langit, sebiru lautan samudra...
Kini kusiap menghadapi hari yang baru...
Dan indahnya bumi...

 ALAMKU Puisi sQa/Rangga

Lihatlah hutan kita ini
Sedikit habis oleh orang-orang
Yang tidak memikirkan masa depan
Dia mementingkan pribadi tanpa peduli
Lewat puisi alam imi aku bertanya
Lewat curahan kata aku bicara
Indahnya tanahku di atas negeri
Ribuan pulau menyapa senyum bijaksana
Indonesia tercinta tetumbuhan menghijau

Aku lahir di sini
Di tempat surgawi
Tanahku subur penjajah suka buahku
Mereka berkelana dari kejauhan
Mereka datang berbondong
Akhirnya mereka pergi dengan semangat alam
Penjajah pergi, penjajah lenyap

Hutan kita habis berkeping
Sisa akar-akar yang suram
Satukan jemari, beri yang lain pencerahan
Cukup tanam satu tunas sehati


 NASIB GUNUNG KITA
Puisi Ade Sulaiman

Gunung-gunung menjulang tinggi
Di sinari oleh sang mentari
Seperti bidadari yang cantik

Tapi sekarang
Keindahan itu telah hilang
Karena ulah para manusia rakus
Oh.........tuhan tolong
Agar aku bisa mekihat
Keindahan yang hilang itu
Kembali 


 POHON HIJAU BATANG, RANTING, DAN DAUN MAHKOTANYA
Ia masih seperti yang dulu
Terlihat kemarin pagi
Ia masih seperti yang dulu
Kulihat kemarin siang
Masih…….. Ia tetap seperti yang dulu
Terlihat lagi sore kemarin

Hujan terlalu lama untuk diturunkan
Matahari terlalu gahar untuk dimandikan
Alam melanglang, embun berganti deburan topan
Debu menggelora
Panas menyengat datang

Aahh….Ia masih seperti yang dulu
Terlihat pagi ini, mentari mercusuar dunia
Oh Tuhan….Ia masih seperti yang dulu
Kulihat lagi sore ini, menggalang sunyi menatap prahara

Akar, Batang………..
Ia masih seperti yang dulu
Tetap tangguh, menancap kokoh menusuk perut bumi
Batang, ranting………bermahkotakan Daun
Selalu, seperti dulu
Kulitnya coklat, merona menyerap mentari
Daunnya segar menghijaukan
Seperti yag aku lihat dulu, diperjalanan hidupku

Oh…Tuhan…..
Ia berbeda hari ini, meranggas, tanpa mahkota

Batang, Ranting…..
Tetap seperti yang dulu
Tapi tak coklat seperti pertama dulu
Legam, pekat….
Ia terbakar, ia telah mati, ia tercabik mahkotanyapun hilang
Tanpa daun

Tepat hari ini
Gelora mentari congkak telah membakarnya
Diatas kepala tersenyum
Mentari tersenyum gahar

Pohon itu…..
Batang itu…..
Ranting itu……
Mahkotanya……..hilang
Hutanku tak seperti yang dulu
Hari ini kulihat siang tadi
Diperjalanan hidupku

 ELOKNYA ALAM INI

Batapa eloknya alam kita ini
Ombak bergulung-gulung
Udara segar bertiup-tiup
Domba putihpun terbang kian kemari

Kita berdiri beralaskan gunung,
Kita berdiri beratapkan langit
Tuk melihat keindahan ciptaan-Mu
Keindahan dunia Kau beri kepadaku

Ku pertaruhkan nyawa ini
Ku pertahankan raga ini
Bertahan di tanduk sebuah gunung
Demi kagumi ciptaan-Mu

Sejarah Sumedang Larang

Sejarah Sumedanglarang

I. ASAL KATA “SUMEDANG”
Kata Sumedang berasal dari “inSUn MEdal insun maDANGan”, Insun artinya saya Medal artinya lahir Madangan artinya memberi penerangan jadi kata Sumedang bisa berarti “Saya lahir untuk memberi penerangan”. Kalimat “Insun Medal Insun Madangan” terucap ketika Prabu Tajimalela raja Sumedang Larang I melihat ketika langit menjadi terang-benderang oleh cahaya yang melengkung mirip selendang (malela) selama tiga hari tiga malam. Kata Sumedang dapat juga diambil juga dari kata Su yang berarti baik atau indah dan Medang adalah nama sejenis pohon, Litsia Chinensis sekarang dikenal sebagai pohon Huru, dulu pohon medang banyak tumbuh subur di dataran tinggi sampai ketinggi 700 m dari permukaan laut seperti halnya Sumedang merupakan dataran tinggi.

II. ASAL MULA SUMEDANG
Asal mula Sumedang berasal dari Kerajaan Tembong Agung yang didirikan oleh Prabu Guru Aji Putih ( 678 - 721 M ) putra Aria Bima Raksa / Ki Balagantrang Senapati Galuh cucu dari Wretikandayun pendiri Kerajaan Galuh. Kerajaan Tembong Agung berada di Citembong Girang Kecamatan Ganeas Sumedang kemudian pindah ke kampung Muhara Desa Leuwi Hideung Kecamatan Darmaraja. Pada masa Prabu Tajimalela ( 721 - 778 M ) putra dari Guru Aji Putih di bekas Kerajaan Tembong Agung didirikan Kerajaan Sumedang Larang. Sumedang Larang berarti tanah luas yang jarang bandingnya” (Su= bagus, Medang = luas dan Larang = jarang bandingannya).
Masa kejayaan Sumedang Larang pada masa pemerintahan Prabu Geusan Ulun (1578 – 1601 M) ketika pada masa pemerintahan Pangeran Santri / Pangeran Kusumahdinata I raja Sumedang Larang ke-8 ayah dari Prabu Geusan Ulun pada tanggal 22 April 1578 atau bulan syawal bertepatan dengan Idul Fitri di Keraton Kutamaya Sumedang Larang Pangeran Santri menerima empat Kandaga Lante yang dipimpin oleh Sanghiang Hawu atau Jaya Perkosa, Batara Dipati Wiradidjaya (Nganganan), Sangiang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana Terong Peot membawa pusaka Pajajaran dan alas parabon untuk di serahkan kepada penguasa Sumedang Larang pada waktu itu dan pada masa itu pula Pangeran Angkawijaya / Pangeran Kusumadinata II dinobatkan sebagai raja Sumedang Larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun sebagai nalendra penerus kerajaan Sunda Padjajaran dan Raja Sumedang Larang ke-9. Ketika dinobatkan sebagai raja Prabu Geusan Ulun berusia + 23 tahun menggantikan ayahnya Pangeran Santri yang telah tua dan pada tanggal 11 Suklapaksa bulan Wesaka 1501 Sakakala atau tanggal 8 Mei 1579 M kerajaan Pajajaran “Sirna ing bumi” Ibukota Padjajaran jatuh ke tangan pasukan Kesultanan Surasowan Banten
Yang akhirnya Sumedang mewarisi wilayah bekas wilayah Padjajaran dengan wilayahnya meliputi seluruh Padjajaran sesudah 1527 masa Prabu Prabu Surawisesa dengan batas meliputi; Sungai Cipamali (daerah Brebes sekarang) di sebelah timur, Sungai Cisadane di sebelah barat, Samudra Hindia sebelah Selatan dan Laut Jawa sebelah utara. Daerah yang tidak termasuk wilayah Sumedang Larang yaitu Kesultanan Banten, Jayakarta dan Kesultanan Cirebon. Dilihat dari luas wilayah kekuasaannya, wilayah Sumedang Larang dulu hampir sama dengan wilayah Jawa Barat sekarang tidak termasuk wilayah Banten dan Jakarta kecuali wilayah Cirebon sekarang menjadi bagian Jawa Barat. sehingga Prabu Geusan Ulun mendapat restu dari 44 penguasa daerah Parahiyangan yang terdiri dari 26 Kandaga Lante, Kandaga Lante adalah semacam Kepala yang satu tingkat lebih tinggi dari pada Cutak (Camat) dan 18 Umbul dengan cacah sebanyak + 9000 umpi. Pemberian pusaka Padjajaran pada tanggal 22 April 1578 akhirnya ditetapkan sebagai hari jadinya Kabupaten Sumedang.
Peristiwa penobatan Prabu Geusan Ulun sebagai Cakrawarti atau Nalendra merupakan kebebasan Sumedang untuk mengsejajarkan diri dengan kerajaan Banten dan Cirebon. Arti penting yang terkandung dalam peristiwa itu ialah pernyataan bahwa Sumedang menjadi ahli waris serta penerus yang sah dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran di Bumi Parahiyangan. Pusaka Pajajaran dan beberapa atribut kerajaan yang dibawa oleh Senapati Jaya Perkosa dari Pakuan dengan sendirinya dijadikan bukti dan alat legalisasi keberadaan Sumedang, sama halnya dengan pusaka Majapahit menjadi ciri keabsahan Demak dan Mataram.

III. DARI MASA KERAJAAN KE MASA KABUPATEN
Pada tahun 1601 Prabu Geusan Ulun wafat dan digantikan oleh putranya Pangeran Aria Soeriadiwangsa, pada masa Aria Soeriadiwangsa kekuasaan Sumedang Larang di daerah sudah menurun dan Mataram melakukan perluasan wilayah ke segala penjuru tanah air termasuk ke Sumedang. Pada waktu itu Sumedang Larang sudah tidak mempunyai kekuatan untuk melawan yang akhirnya Pangeran Aria Soeriadiwangsa pergi ke Mataram untuk menyatakan Sumedang menjadi bagian wilayah Mataram pada tahun 1620. Wilayah bekas kerajaan Sumedang Larang diganti nama menjadi Priangan yang berasal dari kata “Prayangan” yang berarti daerah yang berasal dari pemberian yang timbul dari hati yang ikhlas dan Pangeran Aria Soeriadiwangsa diangkat menjadi Bupati Sumedang pertama dan diberi gelar Rangga Gempol I (1601 – 1625 M). Sumedang menjadi bagian dari wilayah Mataram karena Pangeran Aria Soeriadiwangsa I mengganggap ; 1. Sumedang sudah lemah dari segi kemiliteran, 2. menghindari serangan dari Mataram karena waktu itu Mataram memperluas wilayah kekuasaannya dari segi kekuatan Mataram lebih kuat daripada Sumedang dan 3. menghindari pula serangan dari Cirebon dan VOC. Sultan Agung kemudian membagi-bagi wilayah Priangan menjadi beberapa Kabupaten yang masing-masing dikepalai seorang Bupati, untuk koordinasikan para bupati diangkat seorang Bupati Wadana. Pangeran Rangga Gempol I adalah Bupati Sumedang yang merangkap sebagai Bupati Wadana Priangan pertama (1601 – 1625 M).
Yang akhirnya wilayah Sumedang Larang pada masa Prabu Geusan Ulun menjadi wilayah Sumedang sekarang. Berakhirlah sudah kerajaan Sunda terakhir Sumedang Larang di Jawa Barat Sumedang memasuki era baru yaitu Kabupaten pada tahun 1620 sampai sekarang. Sejak menjadi Kabupaten, Bupati yang memimpin Sumedang sampai tahun 1949 merupakan keturunan langsung dari Prabu Geusan Ulun (lihat masa pemerintahan) tetapi pada tahun 1773 – 1791 yang menjadi Bupati Sumedang adalah Bupati penyelang / sementara dari Parakan Muncang. Menggantikan putra Bupati Surianagara II yang belum menginjak dewasa Rd. Djamu atau terkenal sebagai Pangeran Kornel.

IV. LETAK IBUKOTA KERAJAAN DAN KABUPATEN ( 678 – 1706 M )
BEKAS IBUKOTA KERAJAAN
No.
NAMA TEMPAT
TAHUN
MASA PEMERINTAHAN
KETERANGAN
1.
Tembong Agung - Leuwi Hideung Darmaraja
678 – 893
- Prabu Guru Aji Putih
- Prabu Tajimalela.
- Prabu Lembu Agung
- Raja Tembong Agung.
- Raja Sumedang Larang 1
- Raja Sumedang Larang 2
2.
Ciguling – Pasanggrahan Sumedang Selatan
893 – 1530
- Prabu Gajah Agung.
- Prabu Pagulingan.
- Sunan Guling.
- Prabu Tirtakusumah.
- Nyi Mas Patuakan
- Raja Sumedang Larang 3
- Raja Sumedang Larang 4
- Raja Sumedang Larang 5
- Raja Sumedang Larang 6
- Raja Sumedang Larang 7
3.
Kutamaya - Padasuka
1530 – 1578
Ratu Pucuk Umum / Pangeran Santri
- Raja Sumedang Larang 8
4.
Dayeuh Luhur - Ganeas
1578 - 1601
Prabu Geusan Ulun
- Raja Sumedang Larang 9
BEKAS IBUKOTA KABUPATIAN

No.
NAMA TEMPAT
TAHUN
MASA PEMERINTAHAN
1.
Tegal Kalong – Sumedang Utara
1601 – 1625
Rangga Gempol I.
2.
Canukur Sukatali - Situraja
1601 - 1625
Rangga Gede
3.
Parumasan
1625 - 1633
Rangga Gede.
4.
Tenjo Laut Cidudut - Conggeang
1633 - 1656
Rangga Gempol II
5.
Sulambitan – Sumedang Selatan
1656 - 1706
Pangeran Panembahan
6.
Regol Wetan – Sumedang Selatan
1706 - sekarang
Dalem A

KASUMEDANGAN

SEJARAH SUMEDANG LARANG

KASUMEDANGAN
Kasumedangan merupakan muatan local yang kini tengah dipakai untuk terwujudnya Sumedang sebagai puseur budaya sunda dan pembentukan generasi muda berkarakter budaya lokal.
Pokok-pokok pembahasan diantaranya :

  • Asal mula nama Sumedang
Sumedang berasal dari kata “INSUN MEDAL” yang berarti Aku Lahir dan “INSUN MADANGAN” yaitu Aku Menerangi . Di ikrarkan oleh Prabu Tajimalela ketika melihat malela (selendang) menyerupai taji di angkasa.
Batas-batas Sumedang :
1.    Dari Barat yaitu sampai tangerang tepatnya di sungai Cisadane
2.    Dari Timur yaitu sampai brebes tepatnya di sungai atau kali Cipamali.
3.    Dari Utara yaitu Laut Jawa.
4.    Dari selatan yaitu Samudra Hindia.
Tonggak sejarah bagi kerajaan Sumedang Larang, sebagai kerajaan sunda terbesar, setelah kerajaan Padjadjaran runtuh akibat serangan gabungan banten dan Cirebon, maka kerajaan Sumedang Larang mencakup wilayah bekas kerajaan Padjadjaran.  Tonggak sejarah itulah menjadi dasar : Hari Jadi Sumedang.
Pada waktu itu di Kerajaan Sumedang Larang akan diadakan pengangkatan seorang raja, yang bernama Raden Wijaya, di Padjadjaran sedang ditempa kekacauan karena mendapat serangan yang mendadak dari Kerajaan Banten. Serangan tersebut bertujuan untuk menghancurkan kekuasaan agama hindu dan digantikan oleh Dinul Islam. Pada penyerangan dari Banten dipimpin oleh Syeh Maulana Yusuf.
Ketika mendapat serangan dari Banten yang mendadak itu Padjadjaran tibak bisa berbuat banyak, kecuali menerima kekalahan. Kerajaan Padjadjaran porak-poranda masyarakat banyak mengungsi sehingga rajanya pun (Prabu Siliwangi) berangkat meninggalkan kerajaan. Hanya sebelum berangkat beliau memanggil dulu empat patih kepercayaan Kerajaan (Kandaga Lante) , yang masing-masing ialah :
1.    Sanghiyang Hawu (Embah Jaya Perkasa)
2.    Bantara Dipatiwijaya (Embah Nanganan)
3.    Sanghiyang Kondang Hapa
4.    Batara Pancer Buana (Eyang Terong Peot)
Panggilan Sang Prabu Siliwangi berisikan yang berupa amanat yaitu :
   a.   Memberikan Mahkota Kerajaan Padjadjaran yang berupa :
                -Mahkota Kerajaan yang dibuat dari emas
                -Siger tampekan kilat bahu
                -Kalung bersusun dua dan bersusun tiga
         Semuanya dibuat dari emas dan sekarang masih ada di Museum Sumedang.
   b.     Memohon perlindungan untuk dirinya dan seluruh rakyatnya yang masih berada di wilayah Padjadjaran. Menurut bahasa Prabu Siliwangi ialah Geusan Ulun yang berarti Geusan Kumaula (Tempat Kumaula).
Setelah menerima amanat tersebut maka Kandaga Lante yang empat orang tadi sepakat bahwa yang pantas menjalankan amanat tersebut tiada lain adalah Raden Angkawijaya. Ini berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diantaranya :
1.  Karena Raden Angkawijaya adalah asli keturunan Prabu Siliwangi .
2.  Sangat pantas sekali (payus tur pantes) wilayah kekuasaan Padjadjaran dijadikan Kekuasaan Sumedang Larang.